Wednesday, November 22, 2006
KRISTUS MENEBUS KAUM PILIHAN (3)
Banyak orang akan menganggap ajaran penebusan seperti ini asing sekali, dan menghambat penginjilan. Benarkah demikian? Asumsi tersebut sama sekali tidak benar. Sebab, doktrin penebusan Kristus bagi kaum pilihan selaras dengan prinsip-prinsip penafsiran yang bertanggung jawab, dan harmonis dengan doktrin-doktrin yang lain. Dengan memahami doktrin ini, kita justru melihat keselamatan sebagai gambar utuh dari rencana agung keselamatan, bukan penggalan-penggalan ajaran yang dibangun “asal ada ayatnya.”
Sedangkan terhadap penginjilan, Gereja Tuhan di sepanjang zaman meyakini bahwa penginjilan itu niscaya dilakukan! Panggilan untuk memuridkan segala bangsa tetap berlaku (Mat. 28.19–20). Tetapi kita perlu cermat dan berhati-hati! Apakah dibenarkan, demi orang bertobat, kemudian kita mengaburkan pengajaran Kitab Suci yang benar? Tujuan sama sekali tidak menghalalkan segala cara.
Pada tahun-tahun terakhir, begitu maraknya KKR yang dibumbui oleh pernak-pernik humanistis yang sebenarnya melawan kesaksian firman: manipulasi psikologis dengan membangun suasana-suasana mistik, musik-musik syahdu dan menyentuh hati, serta kata-kata yang terus diulang-ulang, “Bayangkan kasih Tuhan kepadamu. Akankah engkau menyia-nyiakan kasih-Nya yang besar? Rasakan kasih-Nya!” Akhirnya, orang-orang pun tergerak untuk maju dan mengambil keputusan, karena perasaannya tersentuh! Semua itu bukan Injil yang sejati. Sebaliknya, justru musuh Injil!
Rasul Paulus mempercayai doktrin penebusan terbatas, tetapi ia pun penginjil yang efektif. Seorang pengkhotbah meyakini penebusan Kristus bagi umat pilihan, ia tidak akan gegabah berkata, “Kristus rela mati untuk setiap orang di gereja ini, bahkan untuk setiap manusia!” atau seorang penginjil kepada orang yang diinjili, “Kristus mati bagi kamu, langkah selanjutnya ada di tanganmu sendiri.” Sebab, bagaimana ia yakin Kristus benar-benar mati untuk orang tersebut? Tidak ada juga preseden penginjilan seperti itu di Alkitab. Para pengkhotbah KKR sekaliber Charles H. Spurgeon (abad ke-19) atau Jonathan Edwards (abad ke-18) tidak pernah mengucapkan kalimat seperti itu dalam khotbah-khotbah mereka!
Lalu, bagaimana seharusnya pengkhotbah KKR memimpin altar call? Hendaklah ia menghindarkan diri dari godaan berapa jumlah hadirin yang mengangkat tangan! Sebagai pelayan firman Allah, ia dilarang untuk memanipulasi pendengar dengan kharisma atau suasana! Hendaklah altar call tidak dilakukan dengan mengulang-ulang panggilan, seolah-olah Allah merengek-rengek supaya orang-orang berdosa bertobat dan menyerahkan diri. Ia cukup berkata, “Kristus datang untuk menebus orang-orang berdosa!” Ya, ini benar! Kristus datang untuk kaum pilihan Allah, dan mereka ini manusia berdosa!
Sesungguhnya, mempercayai penebusan Kristus bagi kaum pilihan Allah justru mendorong penginjilan. Sebutkanlah penginjil-penginjil terbaik dunia, kebanyakan mereka adalah pemeluk ajaran ini (C. H. Spurgeon, G. Whitefield, G. Muller, J. Edwards). Oh, bila semua manusia ternyata telah rusak total—namun jauh sebelum itu Allah sudah berkenan menetapkan siapa saja yang menjadi umat-Nya—maka penginjilan pastilah berhasil! Keselamatan tidak bergantung pada kehendak manusia, tetapi karya Allah dari awal sampai akhir! Bila Allah memiliki rancangan agung, maka Ia tidak pernah gagal. Pekabaran Injil berarti undangan Allah bagi kita untuk mengumpulkan segenap kaum pilihan Allah yang baginya Kristus telah datang dan menyempurnakan karya keselamatan dengan kematian-Nya. Tidak ada lagi panggilan yang lebih mulia!
TERPUJILAH ALLAH!
KRISTUS MENEBUS KAUM PILIHAN (2)
Setelah mengkaji pandangan penebusan dari opsi kedua, kita telah menemukan kesulitan-kesulitan yang sangat fundamental, bahkan kontradiksi-kontradiksi yang tidak terjawab. Adakah opsi ketiga? Ya, ada!
Berita yang konsisten di dalam Alkitab adalah penebusan setiap orang yang ada dalam hitungan kaum pilihan. Kristus menebus tiap-tiap pribadi yang telah dipilih oleh Allah sejak kekekalan untuk menjadi umat-Nya! Pandangan penebusan seperti ini selaras dengan karya Allah Trinitas, dan memandang keselamatan sebagai unit yang utuh. Keselamatan itu dari awal sampai akhir dikerjakan oleh Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus.
Injil Yohanes. Injil ini mengaitkan karya Allah Bapa dan Putra. Relasi yang sangat harmonis! Bapa memilih dan menganugerahkan iman kepada sejumlah manusia dan mengantarnya kepada Kristus untuk diselamatkan. Tuhan Yesus berkata, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan kubuang” (6.37, bdk. 65). Lebih lanjut, “. . . dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman” (ay. 39, bdk. 44). Makin jelas lagi objek sasaran penebusan Kristus di dalam 10.11, “Gembala yang baik memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya,” dan perhatikan juga ayat 15, “Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.” Kesimpulannya, Tuhan Yesuslah Gembala yang baik dan Dia memberikan nyawa-Nya untuk domba-domba-Nya.
Bagaimana dengan ayat 16? “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain . . . itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” Ada sejumlah orang yang belum percaya dan belum mengenal persekutuan Kristen, tetapi mereka akan dituntun (!) untuk mendengar-kan firman Kristus, sehingga menjadi satu kawanan dengan domba-domba Kristus. Dalam 10.26, 27 ada golongan orang yang tidak percaya oleh karena “tidak termasuk domba-domba-Ku.” Yang termasuk domba Kristus akan percaya! Yang tidak termasuk takkan percaya! Penebusan Kristus mendahului iman! Justru inilah dasar mengapa penginjilan niscaya dilakukan! Penginjilan itu berarti mencari dan mengumpulkan domba-domba yang dituntun oleh Kristus, yang sementara ini belum menjadi satu dengan persekutuan orang percaya, namun yang bagi mereka Kristus juga telah menyerahkan diri-Nya.
Kisah Para Rasul 20.28. Kepada para penatua di Efesus, rasul Paulus berkata, “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.” Rasul Paulus menegaskan apa itu gereja, yaitu kepunyaan Allah yang diperoleh dengan darah Anak-Nya, dengan perkataan lain, umat Allah ditebus melalui kematian Kristus.
Surat-surat Paulus. Rasul Paulus juga jelas berkata, kaum yang dipilih oleh Allah, itulah yang ditebus oleh Kristus. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya, kita [yang dipilih dan ditentukan untuk menjadi anak-anak-Nya] beroleh penebusan” (Ef. 1.7). Konteks dari perikop 1.3–14 menegaskan harmoni karya Trinitaris yang demikian agung! Allah Bapa memilih, Allah Putra menebus, dan pada gilirannya di ayat 13–14, Allah Roh Kudus memeteraikan umat Allah dan menjadi jaminan kaum beriman. Senada dengan ini, Roma 8.30 menyatakan, “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
Menarik juga untuk mengkaji Efesus 5.25–26, “Hai, suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikan-nya dengan air dan firman.” Perhatikan, umat yang bagi mereka Kristus telah mati, mereka juga yang dikuduskan dan dibasuh. Sebaliknya, karena dunia nyata-nyata tidak dikuduskan dan dibasuh, maka jelaslah bahwa Kristus tidak mati bagi semua isi dunia tanpa terkecuali.
Bila betul Kristus mengasihi seluruh isi dunia dengan kasih yang sejajar, dan memberikan hidup-Nya untuk dunia, maka paralel di dalam ayat ini runtuh. Ayat ini berbicara tentang relasi suami-istri, diparalelkan dengan relasi Kristus-Gereja. Seorang suami ya juga harus mengasihi dan memberikan dirinya untuk perempuan lain selain istrinya, kan sama seperti Kristus juga memberikan hidup-Nya untuk orang-orang di luar Gereja-Nya, yang adalah mempelai perempuan-Nya!
Surat Ibrani. Kutipan dari Yesaya 8.18 di Ibrani 2.13 ini menyatakan solidaritas Sang Putra terhadap anak-anak Allah yang lainnya. Tujuan dikutipnya ayat ini ialah supaya tiap-tiap orang percaya meyakini status mereka yang terhormat sebagai saudara-saudara Kristus dan anak-anak Allah. Kehormatan ini didapatkan karena keterhubungan mereka dengan Kristus (1.1–14 dan 2.5–9). Lebih-lebih dalam 2.14–15, kita melihat bahwa Kristus memusnahkan Iblis dan membebaskan kaum-Nya dari perhambaan Iblis. Bahkan pada pasal-pasal berikutnya di dalam Ibrani, Kristus merupakan Imam Besar yang mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban untuk menanggung dosa banyak orang (9.28). Siapakah banyak orang itu? Tak lain adalah “anak-anak yang diberikan Allah kepada-Ku,” kata Tuhan Yesus.
Kesimpulan. PB telah sedemikian jelas bersaksi tentang harmoni karya Trinitas dan siapa saja yang ditebus melalui kematian Kristus. Mereka ini kaum pilihan yang diserahkan Allah Bapa kepada Tuhan Yesus:
Umat-Nya Matius 1.21
Domba-bomba-Nya Yohanes 10.11, 14
Jemaat-Nya Kisah Para Rasul 20.28; Efesus 5.25
Orang-orang pilihan Roma 8.32–34; Efesus 1.7
Anak-anak-Nya Ibrani 2.13
Lantas, bagaimana kita harus memahami ayat-ayat yang “universalis” seperti di bawah ini?
Yehezkiel 33.11. Siapa yang disebut orang fasik? Konteksnya jelas, yaitu orang Israel. Dengan demikian, ayat ini tidak berbicara tentang hasrat Allah untuk memanggil kembali segenap manusia tanpa ada yang tertinggal. Bila dalam 2 Petrus 3.9 nada yang sama digemakan, jangan lupa anak kalimat sebelumnya, “Ia sabar terhadap kamu,” yang jelas-jelas merujuk kepada penerima Surat 2 Petrus ini. Jadi, ayat-ayat ini ditujukan untuk umat Allah sendiri.
2 Korintus 5.14–15. Ada kata yang sama, yaitu “semua.” Semua orang telah mati dalam Adam, dan “Kristus telah mati untuk semua orang.” Baca juga 1 Korintus 15.22, “karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” Bila kata “semua” ini berarti setiap manusia tanpa terkecuali, maka neraka sudah purna tugas. Sebab semua orang yang mati di dalam Adam, yakni setiap manusia yang menjadi keturunan Adam, telah dihidupkan dengan kematian Kristus. Setujukah Anda?
Apa arti “semua”? Ketika Alkitab memakai kata ini, tak selalu artinya “setiap.” Misalnya, ketika Tuhan Yesus ditinggikan dari bumi, Ia akan “menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh. 12.32), apakah setiap orang datang kepada Kristus? Pontius Pilatus, Hanas, Kayafas nyatanya tidak. Bahkan jutaan orang di seluruh dunia tidak mendengar Kristus, bagaimana mungkin mereka datang kepada Kristus? (Bdk. juga “semua orang di seluruh dunia” di Luk. 2.1.) Semua ternyata tidak berarti setiap. Yang dapat kita simpulkan dari kata “semua” adalah: kaum pilihan Allah yang berasal dari segala suku dan bangsa atau pangkat dan derajat, tanpa diberi preferensi-preferensi khusus (bdk. Why. 5.9–10; 7.9).
2 Korintus 5.14–15 harus ditempatkan dalam konteks yang tepat. Yang dimaksud dengan “semua” diterangkan oleh ay. 18, “Kristus telah mendamaikan kita,” dan ay. 21 “Dia . . . menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Siapa yang dimaksud “kita”? Paulus dan tim PI-nya beserta segenap jemaat Korintus, yang telah percaya kepada Tuhan Yesus dan diperdamaikan dengan Allah melalui darah Putra-Nya. Kita dapat menyimpulkan, Kristus mati untuk umat-Nya.
Yohanes 4.42. Sebelum menjawab masalah, periksalah kembali kajian Injil Yohanes di atas. Gembala yang baik memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.” Jadi, Kristus mati dan bangkit untuk menebus umat-Nya. Lantas, apa artinya “dunia” di ayat ini (mis. juga 3.16)? Bukan tiap-tiap individu, tetapi sama seperti di atas, yaitu segala suku dan bangsa, dari segala derajat dan pangkat dan jenis kelamin.
1 Timotius. Di 1.15 dituliskan kata “dunia” dan “orang berdosa.” Tetapi, perhatikan tuturan sang rasul selanjutnya, “dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” Siapakah “mereka” itu? Di ayat 16, mereka ini adalah orang-orang “yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.” Paulus menyebut dirinya adalah yang paling berdosa bila dibandingkan dengan semua orang berdosa yang kemudian mendapat hidup yang kekal, yaitu orang-orang Kristen. Jadi, yang dimaksud “orang berdosa” bukanlah semua orang tanpa terkecuali, tetapi para pengikut Kristus.
Ayat 2.3, “semua [setiap] orang diselamatkan . . .” dan ayat 6 “yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua [pantōn]” seolah-olah menyiratkan keselamatan universal. Baiklah, memang bisa diterjemahkan “semua manusia.” Tetapi perhatikan konteks-nya. (1) Rasul mengimbau jemaat untuk mendoakan semua orang, termasuk raja-raja dan para pembesar—orang-orang dari berbagai tingkat sosial (ay. 1–2); (2) Rasul sendiri mengatakan dirinya sebagai pemberita Injil dan rasul untuk orang-orang bukan Yahudi—orang-orang dari etnis yang berbeda (ay. 7). Jelaslah kini maksud rasul. Bukan penebusan untuk setiap manusia tanpa terkecuali, tetapi jangkauan keanggotaan Gereja Kristus, yang meruntuhkan tembok-tembok perbedaan yang tidak mungkin dapat diubah. Visi Gereja sebagai pelopor Kerajaan Allah seharusnya bermisikan persaudaraan, kesetaraan dan egalitarian.
1 Yohanes 2.2. Hal ini menggarisbawahi pemulihan dunia yang dimulai dari pemulihan umat Allah. Bahasa penulis 1 Yohanes sangatlah Yahudi. Karena Israel telah dipulihkan—ditandai dengan kehadiran Gereja di dalam dunia—maka prinsip dunia baru yang dipimpin oleh Kristus pun telah hadir di atas bumi. Perhatikan 4.10, “Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah meng-utus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” “Kita” di sini adalah orang-orang yang dosa-dosanya sudah diampuni (2.12), yang telah mengalah-kan yang jahat (2.13), dan yang menanti-nantikan Kristus (3.2).
KRISTUS MENEBUS KAUM PILIHAN (1)
KRISTUS MENEBUS KAUM PILIHAN ALLAH
Pertimbangan Awal
Kita percaya bahwa Tuhan Yesus Kristus menebus orang-orang berdosa dan memberikan jaminan keselamatan. “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (1Tim. 1.15). Tetapi, siapa sajakah orang-orang berdosa yang ditebus oleh Tuhan Yesus itu? Jawaban yang sering kita dengar adalah “setiap manusia tanpa terkecuali.” Beberapa data Alkitab yang tersebar di sana-sini untuk mendukung pandangan ini adalah sebagai berikut:
Yehezkiel 33.11, “. . . Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya . . . .”
Yohanes 4.42, “. . . Dialah benar-benar Juruselamat dunia.”
2 Korintus 5.14–15, “. . . bahwa satu orang sudah mati untuk semua orang maka mereka semua sudah mati . . . Kristus telah mati untuk semua orang.”
1 Timotius 2.3–6, “. . . Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan . . . yaitu manusia Yesus Kristus yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia . . . .”
2 Petrus 3.9, “. . . Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”
1 Yohanes 2.2, “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.”
Banyak orang segera menyimpulkan penebusan Kristus itu universal sifatnya, bagi tiap-tiap pribadi. Namun demikian, data di atas masih menyimpan dua macam opsi yang harus kita pecahkan.
Opsi pertama. Apakah Kristus mati untuk setiap manusia tanpa terkecuali sehingga setiap manusia pasti diselamatkan? Penebusan Kristus itu universal dan karena itu tidak ada seorang pun yang tidak selamat. Pandangan ini sebenarnya konsisten dalam kaidah bernalar:
Semua orang ditebus oleh kematian Kristus,
Kematian Kristus memberi keselamatan,
Maka, semua orang menerima keselamatan.
Hanya saja, apa ajaran ini benar? Alkitab terlampau blak-blakan tatkala membahas realitas neraka dan penghuni-penghuninya. Mempercayai pengajaran seperti ini akan berisiko menerjang pengajaran Alkitab mengenai dosa dan adanya orang-orang yang dimurkai oleh Allah. Pandangan “universalisme” ini biasanya dianut oleh kaum liberal.
Opsi kedua. Apakah Kristus mati untuk setiap manusia tanpa terkecuali tetapi tidak semua mendapatkan keselamatan karena tidak mau percaya Allah? Keselamatan Kristus itu universal, tetapi hanya beberapa orang—yang mau merespons karya penebusan Kristus dengan kehendak pribadinya—yang diselamatkan, yang lain akan dihukum. Pandangan kedua ini diikuti oleh mayoritas orang Kristen, paling tidak di Indonesia.
Sepintas lalu, opsi yang kedua itu nampak alkitabiah, sebab mencantumkan banyak ayat. Namun marilah mengamati konsistensi logika pandangan ini:
Semua orang ditebus oleh kematian Kristus,
Kematian Kristus memberi keselamatan,
Maka, hanya sebagian orang menerima keselamatan.
Logika yang aneh! Pertanyaan penting yang perlu diajukan selanjutnya adalah, apakah Kristus juga menebus orang-orang yang hingga matinya menolak Kristus? Karena itu, marilah kita sekarang meneliti kekonsistenan opsi kedua itu dengan lebih cermat.
Menakar Konsistensi Ajaran
1. Penebusan Kristus dan Rencana Agung Allah (Telaah Filosofis)
a. Jika kita percaya bahwa Allah pirsa saderengipun winarah, bahkan ketetapan-Nya sabda pandhita ratu, tentu kita sepakat bahwa Allah sudah mengetahui siapa yang akan menjadi milik-Nya. Bahkan Alkitab sendiri bersaksi bahwa Allah, dalam kedaulatan-Nya, telah memilih sejumlah manusia untuk menjadi umat-Nya sejak kekekalan (Ef. 1.4–5). Betapa inkonsisten bila Allah—yang sudah paham siapa saja yang menjadi milik-Nya—kemudian mengutus Kristus untuk menebus semua manusia tanpa terkecuali, termasuk orang-orang yang bukan kaum pilihan-Nya. Lebih-lebih kalau kita mau jujur, tidak ada satu ayat pun yang berkata secara langsung bahwa “Kristus mati untuk setiap manusia.”
b. Pengajaran opsi kedua ini akan konsisten hanya jika kita percaya bahwa Allah tidak memiliki rancangan keselamatan, serta tidak tahu ujung sejarah ciptaan. Kristus datang untuk menebus setiap manusia tanpa terkecuali, tetapi ada sejumlah kecil orang yang kemudian mau menerima-Nya, sehingga ndilalah jumlah umat Allah bertambah “di luar ketetapan Allah,” oleh sebab kehendak untuk memilih Kristus dan karya-Nya.[1]
c. Opsi kedua berniat untuk “meluputkan Allah” dari tanggung jawab bila manusia menolak karya Kristus. Tetapi sebaliknya, risiko berat yang harus dihadapi oleh pengajaran ini adalah: Allah sendiri tidak memiliki jaminan pasti siapa-siapa saja yang akan percaya kepada-Nya! Kalaupun Allah tahu, Ia tak berdaya, karena semua berdasarkan kehendak manusia! Bagaimana dengan jaminan keselamatan? O memang betul, para pen-dahulu kita setia dalam iman hingga akhir hidup mereka! Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang hidup sekarang? Bagaimana dengan keselamatan kita? Bukankah ada kemungkinan kita pada akhirnya menolak karya Kristus? Sejangka waktu, di hadapan orang banyak, memang kita bisa tampak percaya, aktif, menjadi pengurus komisi bahkan majelis, tetapi siapa yang menjamin kalau seminggu, sebulan, atau setahun mendatang kita semua akan tetap setia? Bahkan Tuhan pun tidak! Bila demikian, maka pengajaran ini sesungguhnya mendiskreditkan Allah.
2. Penebusan Kristus dan Jaminan (Telaah Teologis)
a. Apakah arti Kristus sebagai “Juruselamat”? Yaitu keselamatan hanya tersedia di dalam Tuhan Yesus. Sekarang, pertanyaan balik yang perlu diajukan yakni, apakah keselamatan sebagai buah penebusan Kristus itu suatu kemungkinan ataukah kepastian? Yang dimaksud dengan kemungkinan berarti, “penebusan Kristus hendak mengerjakan keselamatan orang ber-dosa, tergantung seseorang mau atau tidak diselamatkan; Tuhan tidak dapat memaksanya.” Sedangkan kepastian berarti, “penebusan Kristus pasti mengerjakan keselamatan untuk manusia berdosa.” Kita tentu percaya bahwa penebusan itu efektif dan pasti. Perhatikan selanjutnya.
b. Setiap orang Kristen percaya bahwa hakikat kematian Kristus adalah “substitusi,” (penggantian) kurban bagi penebusan dosa. Kristus menggantikan kita, orang-orang berdosa, dari murka Allah yang menyala-nyala, sehingga kita diampuni oleh Allah:
“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor. 5.21).
“Substitusi” ini meliputi empat aspek:
(i) “propisiasi,” meredakan atau meredam murka Allah yang kudus (Ibr. 2.17; 1Yoh. 2.2);
(ii) “expiasi,” menghapuskan dosa (Rm. 3.25);
(iii) “rekonsiliasi,” pendamaian manusia dan Allah (Rm. 5.10; 2Kor. 5.20);
(iv) “redempsi,” penebusan dari kutuk Hukum Taurat (Gal. 3.13; Kol. 1.14).
c. Jika Kristus benar-benar datang untuk menebus setiap orang tanpa terkecuali, dan penebusan Kristus itu efektif, berarti Kristus pasti menggantikan setiap orang tanpa terke-cuali. Bila ini benar, maka seharusnya setiap orang tidak lagi menanggung murka dan kutuk Allah, sebab Kristus telah menanggung murka Allah itu sebagai ganti setiap manusia tanpa terkecuali. Maka, setiap manusia pastilah diselamatkan oleh Allah, atau penebusan Kristus tidak memiliki daya apa-apa atas manusia yang dikuasai oleh dosa. (Awas!! Ingat bahaya opsi pertama di depan!) Tetapi kenyataannya, ada orang-orang yang menerima penghukuman dari Allah! Kalau Kristus menebus semua orang, mengapa mereka ini masih dihukum oleh Allah?
d. Marilah kita juga merenung: Apakah Kristus datang untuk menggantikan penghukuman orang yang menolak Kristus sehingga ia tak lagi berada di bawah murka Allah? Apakah Kristus menebus dan meredam murka Allah demi orang yang menolak Dia? Apakah Tuhan Yesus mati menghapuskan dosa-dosa orang yang menolak-Nya? Apakah Tuhan Yesus mendamaikan orang yang menolak Kristus dengan Allah sehingga tak ada lagi perseteruan antara orang itu dengan Allah?
e. Semoga kita tidak melakukan lompatan logika, dengan berkata, “Sebenarnya Yesus [mau] mati untuk orang itu, tetapi dia sendiri yang menolak Kristus!” Sebab kita akan terbentur kembali dengan kesimpulan, bahwa kematian Kristus tidak memberi kepastian, tetapi sekadar kemungkinan: Insyaallah, bila orang itu mau percaya! Sungguh posisi yang tidak konsisten!
3. Penebusan Kristus dan Sejarah Penebusan (Telaah Biblis)
a. Sesungguhnya, Alkitab jelas-jelas bersaksi bahwa Kristus menebus kaum pilihan Allah. Suatu karya penebusan terhadap sejumlah umat yang definitif.
b. Bila Kekristenan konsisten dengan berita Perjanjian Lama (PL), maka penebusan Kristus harus ditempatkan dalam matra “sejarah penebusan” dan berita eskatologis PL. PL berbicara mengenai pengharapan kosmos, alam raya ciptaan Allah, dan hal ini baru dapat terlaksana bila umat Allah dipulihkan. Tatkala Mesias hadir, Ia datang untuk memulihkan Israel, umat Allah, dan pemulihan umat Allah inilah yang akan meretas jalan pemulihan kosmos (Yes. 55).
c. Kalau demikian, Yesus dari Nasaret layak disebut Mesias bila Ia memenuhi tugas panggilan-Nya sebagai pemulih Israel. Ternyata berita yang disampaikan kepada Yusuf mengenai Anak yang akan dilahirkan oleh Maria yakni, “Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1.21). Aha! Bukan menyelamatkan semua manusia tanpa terkecuali! Tetapi berita mengenai “penebusan terbatas”! Mindset (pola pikir) penulis Injil sangat dipengaruhi oleh berita PL, bahwa keselamatan atas bangsa-bangsa bisa terlaksana hanya bila Mesias yang sejati datang dan menebus umat Allah dan menancapkan prinsip Kerajaan Allah di atas dunia. Jelaslah kini, bahwa penebusan Kristus untuk setiap orang tanpa terkecuali menghadapi kendala terasing dari kesinambungan berita penebusan di PL.
4. Penebusan Kristus dan Pekabaran Injil (Telaah Praktis)
a. Banyak orang Kristen beranggapan, penebusan bagi semua orang tanpa terkecuali akan mendorong semangat penginjilan. Sebab, bagaimana mungkin kita akan menginjili orang yang tidak percaya bila Kristus tidak datang dan menebusnya? Maka, Kristus haruslah terlebih dahulu menebus setiap manusia ketika ia masih ada di dalam dosa. Sehingga, kita mengajukan tantangan dengan berkata, “Tuhan Yesus mati untuk kamu,” oleh kehendak bebas pribadi ia akan menanggapi karya Kristus secara positif, menerima, atau negatif, menolak Kristus dan karya-Nya.
b. Tetapi marilah kita menimbang dengan serius. Kalau Kristus mati untuk semua orang, dan iman itu berdasarkan pilihan bebas dari manusia—dan orang beranggapan hal ini akan melancarkan penginjilan—adakah jaminan kelak Tuhan Yesus akan menjumpai seseorang beriman di dalam dunia ketika Ia datang kembali? Keselamatan berdasarkan kehendak bebas tidak memberi jaminan yang pasti! Jangan-jangan semua orang yang sekarang ini berkobar-kobar dalam melayani Tuhan, menjadi majelis dan aktivis, ternyata kemudian berbalik dan melawan Tuhan!
c. Cobalah merenung. Kita menggebu-gebu dalam melayani banyak orang supaya mereka bertobat, dan kita berhasil memenangkan mereka! Tetapi suatu saat kita menjumpai semua orang yang kita layani berbalik dan tidak percaya lagi kepada Tuhan, apa yang kita ungkapkan? “Yaah, saya serahkan sajalah kepada Tuhan!” Bukankah ini kontradiktif? Lho, lho, lho, katanya kepercayaan itu berdasarkan pilihan bebas, tetapi ketika orang-orang hasil dari penginjilan kita murtad, maka tanggung jawabnya kok dilemparkan kepada Tuhan? Harus diakui, ajaran penebusan bagi semua orang tanpa terkecuali malah membuat pesimis penginjilan!
[1]Di sinilah beberapa teolog open theism, “teisme terbuka,” seperti William Hasker dan Clark Pinnock menganjurkan ide middle knowledge, “pengetahuan tengah,” yaitu bahwa Allah hanya merancang penebusan dan keselamatan manusia seluruhnya, tetapi ada peristiwa lain yang menyusup dan terjadi, yakni dosa yang mengakibatkan “pergeseran” rencana Allah itu. Kristus datang menebus semua orang tanpa terkecuali, tetapi ada sebagian orang yang mau “menerima” rencana Allah dengan kehendaknya, tetapi ada juga yang menolak. Penolakan dan penerimaan ini pun termasuk kejadian yang menyusup. Jadi, Allah menerima suatu “kejutan baru.”